tulisan1_ekoperasi_leadership
Nama : Diyanah Fauziyyah Meiliawati
Kelas : 3EA19
NPM : 13214223
Gaya
Kepemimpinan BJ Habibie
“Tahun 1997 adalah
Pemilu terakhir masa Orde Baru, dimana untuk Legislatif (DPR dan MPR)
pemenangnya adalah Golkar (Golongan Karya) sedangkan Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) mendapatkan suara
minoritas. Dari hasil Sidang MPR terpilihlah Soeharto dan BJ. Habibie menjadi
Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 1997-2002.
Terpilihnya BJ. Habibie menjadi Wakil Presiden membuat gerah kelompok dan tokoh yang anti Islam dan anti kebangkitan Islam di Indonesia. Apalagi sebelum terpilihnya BJ Habibie sebagai ikon tokoh cendikiawan muslim Indonesia, telah terjadi perubahan yang cukup membuat gentar kelompok anti Islam. Pada saat itu muncul ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), berdirinya koran Republika, Bank Muamalat, anggota parlemen dan ABRI (sekarang TNI, red) yang ijo royo royo, dan gejala lain yang sejenis.
Ketika Gerakan Reformasi 1998, dengan tuntutan masyarakat untuk menumbangkan Orde Baru dan kroni-kroninya, Yusril Izha Mahendra sebagai ahli hukum tata negara dengan keberanian dan kecerdasannya mampu mengantar gerakan suksesi kepemimpinan dengan cara damai, meskipun ketika itu sudah banyak korban. Pembakaran mall, pusat perbelanjaan, gedung dan diikuti dengan banyaknya korban jiwa. Suksesi damai itu akhirnya mengangkat Wakil Presiden BJ Habibie menjadi Presiden ke-3 menggantikan Presiden Soeharto yang oleh Yusril Izha Mahendra disarankan untuk mengundurkan diri dari jabatan presiden.
Prof. BJ Habibie bergerak sangat cepat, tegas dan cermat. Arus reformasi benar dijadikan sebagai "momentum" perbaikan sistem politik, ekonomi, hukum dan kemasyarakatan. Habibie menciptakan kebebasan pers, membebaskan tahanan politik, membuat UU Partai Politik, jajak pendapat Timor Timur (meski disayangkan karena hasilnya Timtim lepas dari NKRI, red), mundur dari Golkar, mengendalikan nilai tukar rupiah yang anjlok dan kebijakan lainnya yang hampir semuanya berjalan begitu cepat, termasuk persiapan Pemilu 1999 yang secara gentlemenHabibie tidak ikut mencalonkan diri sebagai Presiden RI.
Hampir seluruh kebijakan Habibie sebagai presiden dan kepala pemerintahan saat itu menimbulkan polemik (pro dan kontra). Walaupun hampir semua pakar, khususnya yang memiliki pikiran dan kepribadian baik pasti menunjukkan pujian dan "angkat topi" Habibie yang bukan ahli keuangan dan moneter ternyata sangat piawai dalam menyelesaikan persoalan keuangan dan moneter. Orang juga menunjukkan kekagumannya ketika Habibie mengambil keputusan dalah soal hukum, militer, hubungan luar negeri dan yang lainnya.
Tapi perlu kita ingat, apa yang dilakukan oleh Habibie ternyata Menimbulkan kebencian bagi kelompok liberal, anti Islam dan para komparador Asing. Dan yang membuat kita prihatin dan "ngelus dodo" para liberal, anti Islam dan komparador asing menghantam Habibie yang cerdas dan cekatan menumpang sebagian tokoh-tokoh Islam.
Fenomena Prof Habibie ini tampaknya juga bisa terulang di masa suksesi kepemimpinan nasional 2014. Saat ini masyarakat kebingungan menentukan pilihan untuk Presiden mendatang. Selama masa reformasi dan setelah Presiden Habibie, kita pernah punya presiden berlatar belakang Kyai dari organisasi islam (NU) KH. Abdurrahman Wahid, Presiden dari keturunan presiden pertama, Hj. Megawati Soekarno Putri, Presiden yang dari TNI. Jujur dalam masa pemerintahan tiga Presiden ini, Indonesia (hampir lima belas tahun) tidak ada satu pun prestasi. Bahkan bisa dibilang Indonesia telah kehilangan waktu lima belas tahun.
Ada tokoh Prof. Yusril Izha Mahendra, pemikirannya cerdas, berani, konsisten. Bahkan mirip gaya Presiden Indonesia III (Prof. Habibie). Tapi banyak para tokoh yang ngebet dan merasa bisa memimpin negara Indonesia yang kaya raya namun selama ini telah terjadi "miss-management" sehingga rakyatnya miskin, apatis dan cenderung bodoh. Sebagian meragukan apakah Yusril bisa mengatasi ekonomi, teknologi yang sudah tertinggal jauh, perselisihan horisontal dan vertikal. Bahkan dari kelompok dan tokoh Islam mempertanyakan komitmen keislamannya dan berbagai alasan lainnya.
Namun jika dicermati, fenomena Yusril Izha Mahendra ini bukan keraguan akan kemampuannya, tetapi lebih kepada kekhawatiaran "bahwa" jika presiden Indonesia adalah Yusril maka Indonesia akan menjadi negara yang sistem pemerintahannya kuat, sehingga mafia akan hilang, komparador asing akan bertumbangan dan yang pasti nafasnya akan menjadi nafas Islam. Kita bisa cek satu persatu, ada kemiripan filosofi kepemimpinan BJ. Habibie dengan Yusril Izha Mahendra, yakni memperkuat dan membangun sistem, bukan dengan cara tambal sulam.
Sebagai penutup, bisa dibilang antara Prof. BJ. Habibie dan Prof. Yusril Izha Mahendra jika menjadi Presiden, maka akan sangat dirindukan dan dikagumi. Dan Insya Allah bangsa ini akan menjadi bangsa yang berdaulat dan kuat, tetapi rakyatnya sejahtera.”
Terpilihnya BJ. Habibie menjadi Wakil Presiden membuat gerah kelompok dan tokoh yang anti Islam dan anti kebangkitan Islam di Indonesia. Apalagi sebelum terpilihnya BJ Habibie sebagai ikon tokoh cendikiawan muslim Indonesia, telah terjadi perubahan yang cukup membuat gentar kelompok anti Islam. Pada saat itu muncul ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), berdirinya koran Republika, Bank Muamalat, anggota parlemen dan ABRI (sekarang TNI, red) yang ijo royo royo, dan gejala lain yang sejenis.
Ketika Gerakan Reformasi 1998, dengan tuntutan masyarakat untuk menumbangkan Orde Baru dan kroni-kroninya, Yusril Izha Mahendra sebagai ahli hukum tata negara dengan keberanian dan kecerdasannya mampu mengantar gerakan suksesi kepemimpinan dengan cara damai, meskipun ketika itu sudah banyak korban. Pembakaran mall, pusat perbelanjaan, gedung dan diikuti dengan banyaknya korban jiwa. Suksesi damai itu akhirnya mengangkat Wakil Presiden BJ Habibie menjadi Presiden ke-3 menggantikan Presiden Soeharto yang oleh Yusril Izha Mahendra disarankan untuk mengundurkan diri dari jabatan presiden.
Prof. BJ Habibie bergerak sangat cepat, tegas dan cermat. Arus reformasi benar dijadikan sebagai "momentum" perbaikan sistem politik, ekonomi, hukum dan kemasyarakatan. Habibie menciptakan kebebasan pers, membebaskan tahanan politik, membuat UU Partai Politik, jajak pendapat Timor Timur (meski disayangkan karena hasilnya Timtim lepas dari NKRI, red), mundur dari Golkar, mengendalikan nilai tukar rupiah yang anjlok dan kebijakan lainnya yang hampir semuanya berjalan begitu cepat, termasuk persiapan Pemilu 1999 yang secara gentlemenHabibie tidak ikut mencalonkan diri sebagai Presiden RI.
Hampir seluruh kebijakan Habibie sebagai presiden dan kepala pemerintahan saat itu menimbulkan polemik (pro dan kontra). Walaupun hampir semua pakar, khususnya yang memiliki pikiran dan kepribadian baik pasti menunjukkan pujian dan "angkat topi" Habibie yang bukan ahli keuangan dan moneter ternyata sangat piawai dalam menyelesaikan persoalan keuangan dan moneter. Orang juga menunjukkan kekagumannya ketika Habibie mengambil keputusan dalah soal hukum, militer, hubungan luar negeri dan yang lainnya.
Tapi perlu kita ingat, apa yang dilakukan oleh Habibie ternyata Menimbulkan kebencian bagi kelompok liberal, anti Islam dan para komparador Asing. Dan yang membuat kita prihatin dan "ngelus dodo" para liberal, anti Islam dan komparador asing menghantam Habibie yang cerdas dan cekatan menumpang sebagian tokoh-tokoh Islam.
Fenomena Prof Habibie ini tampaknya juga bisa terulang di masa suksesi kepemimpinan nasional 2014. Saat ini masyarakat kebingungan menentukan pilihan untuk Presiden mendatang. Selama masa reformasi dan setelah Presiden Habibie, kita pernah punya presiden berlatar belakang Kyai dari organisasi islam (NU) KH. Abdurrahman Wahid, Presiden dari keturunan presiden pertama, Hj. Megawati Soekarno Putri, Presiden yang dari TNI. Jujur dalam masa pemerintahan tiga Presiden ini, Indonesia (hampir lima belas tahun) tidak ada satu pun prestasi. Bahkan bisa dibilang Indonesia telah kehilangan waktu lima belas tahun.
Ada tokoh Prof. Yusril Izha Mahendra, pemikirannya cerdas, berani, konsisten. Bahkan mirip gaya Presiden Indonesia III (Prof. Habibie). Tapi banyak para tokoh yang ngebet dan merasa bisa memimpin negara Indonesia yang kaya raya namun selama ini telah terjadi "miss-management" sehingga rakyatnya miskin, apatis dan cenderung bodoh. Sebagian meragukan apakah Yusril bisa mengatasi ekonomi, teknologi yang sudah tertinggal jauh, perselisihan horisontal dan vertikal. Bahkan dari kelompok dan tokoh Islam mempertanyakan komitmen keislamannya dan berbagai alasan lainnya.
Namun jika dicermati, fenomena Yusril Izha Mahendra ini bukan keraguan akan kemampuannya, tetapi lebih kepada kekhawatiaran "bahwa" jika presiden Indonesia adalah Yusril maka Indonesia akan menjadi negara yang sistem pemerintahannya kuat, sehingga mafia akan hilang, komparador asing akan bertumbangan dan yang pasti nafasnya akan menjadi nafas Islam. Kita bisa cek satu persatu, ada kemiripan filosofi kepemimpinan BJ. Habibie dengan Yusril Izha Mahendra, yakni memperkuat dan membangun sistem, bukan dengan cara tambal sulam.
Sebagai penutup, bisa dibilang antara Prof. BJ. Habibie dan Prof. Yusril Izha Mahendra jika menjadi Presiden, maka akan sangat dirindukan dan dikagumi. Dan Insya Allah bangsa ini akan menjadi bangsa yang berdaulat dan kuat, tetapi rakyatnya sejahtera.”
Sumber : http://www.suara-islam.com/read/index/10141/Kesamaan-antara-BJ-Habibie-dengan-Yusril-Ihza-Mahendra
Analisis :
Di masa singkatnya
kepemimpinan Presiden B.J Habibie, beliau sempat memberikan banyak langkah
cepat kebijakan untuk memperbaiki sistem
di semua sektor pemerintahan. BJ Habibie sempat mengurangi kontrol pada
kebebasan berpendapat kebebasan untuk berorganisasi dan membebaskan banyak
tahanan politik. Beliau juga memberikan kebebasan pada rakyat Indonesia untuk
menyalurkan aspirasi. Oleh karenanya, pada masa itu banyak partai politik baru
yang bermunculan.
Gaya kepemimpinan BJ
Habibie juga otodidak, buktinya di era krisis moneter yang melanda Indonesia
pada saat beliau menjabat, B.J Habibie juga berhasil memotong nilai tukar
rupiah terhadap dollar. Beliau juga berhasil melikuidasi beberapa bank yang
memang bermasalah dan melakukan rekapitulasi dan rekonstrukturisasi perbankan
melalui unit pengelola aset negara dan pembentukan BPPN. Padahal beliau tidak
begitu mahir dalam hal financial.
Gaya kepemimpinan
seseorang juga dibentuk oleh watak dan lingkungan, BJ Habibie sepenuhnya
mengikuti gaya kepemimpinan raja-raja melayu dalam melaksanakan pekerjaan,
lebih masuk akal ia lebih menghayati dan menerapkan prinsip-prinsip yang
berlaku di dalam industri modern. BJ Habibie details dan perfeksionis, sehingga
ia menekuni sesuatu hingga sampai ke detail-detailnya yang paling kecil dan
beliau melakukan upaya untuk mencapai kesempurnaan yang setinggi mungkin.
Sebenarnya gaya kepemimpinan Presiden Habibie
adalah gaya kepemimpinan Dedikatif-Fasilitatif, merupakan sendi dan
Kepemimpinan Demokratik. Pada masa pemerintahan B.J Habibie ini, kebebasan pers
dibuka lebar-lebar sehingga melahirkan demokratisasi yang lebih besar. Pada
saat itu pula peraturan-peraturan perundang-undangan banyak dibuat. Pertumbuhan
ekonomi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. BJ Habibie sangat terbuka dalam berbicara
tetapi tidak pandai dalam mendengar, akrab dalam bergaul. Sangat detailis, suka
uji coba tapi tetapi kurang tekun dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Gaya
komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau
memikirkan risikonya. Ketika Habibie dalam situasi penuh emosional, ia
cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia kehilangan
kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak cepat, rupanya, salah satu
solusi untuk menurunkan tensinya.
Komentar
Posting Komentar