Etika Bisnis Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan dengan Pelanggaran Pencemaran/Polusi



ETIKA BISNIS


SEKTOR PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN PERIKANAN DENGAN PELANGGARAN PENCEMARAN/POLUSI
KELOMPOK 1 :
ANDIKA SYAFRI (11214181)
DIYANAH FAUZIYYAH (13214223)
DIKA ADITYA (13214067)
GLORIA KRISTIN SOPHIA WEL (14214602)
KELAS : 3EA19

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK


BAB I
LATAR BELAKANG
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki jumlah pulau sebanyak 17.504 pulau dan di antaranya tidak berpenghuni. Pulau-pulau menyebar di wilayah khatulistiwa sepanjang 3.977 mil di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik sehingga memberikan cuaca tropis dan perbedaan letak geografis karena panjangnya pulau-pulau yang menyebar, menyebabkan pembagian waktu dan mata pencarian penduduk di Indonesia berbeda-beda.
Perekonomian di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai bidang biasanya bidang-bidang tersebut berdasarkan letak geografis pulau-pulau di Indonesia. Adapun bidang-bidang tersebut antara lain sebagai berikut :
1.      Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan.
2.      Sektor Pertambangan dan Penggalian
3.      Sektor Industri Pengolahan (Manufaktur)
4.      Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
5.      Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
6.      Sektor Jasa
7.      Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
8.      Sektor Kontruksi
9.      Sektor Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan













BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
Indonesia merupakan negara agraris, sehingga sebagian besar rakyat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Adapun kontribusi sektor pertanian dan peternakan terhadap pertumbuhan dan perkembangan perekonomian di Indonesia sektor ini mencakup tanaman, bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Sampai dengan tahun 2003 sektor pertanian masih merupakan andalan dalam membentuk perekonomian jombang. Sekalipun peranannya mengecil, pada tahun 2009 sektor pertanian memberi kontribusi sebesar 42,05% dan pada tahun 2003 mengecil menjadi 38,16%. Subsektor terbesar dalam membentuk PDRB sektor pertanian adalah sub sector bahan makanan dengan memberikan peran sebesar 27,83% (tahun 2003) terhadap PDRB. Sedangkan subsektor lainnya seperti tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan masing-masing memberikan peran sebesar 3,89%, 5,541%, 0,62%, dan 0,40% antara lain sebagai berikut :
1.      Kontribusi Produk
Pertanian dan peternakan sangat berperan dalam kehidupan manusia terutama warga Indonesia yang kebutuhan pangannya didominasi dengan bidang pertanian dan peternakan seperti beras, sayuran, buah, daging, susu, kulit dan lain sebagainya. Pertanian juga berperan sebagai penyuplai bahan baku yang nantinya akan diolah oleh industri manufaktur.
2.      Kontribusi Devisa
Pertanian dan peternakan mampu memberikan devisa kepada negara apabila pertanian dan peternakan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan meningkatkan daya saing produk pertanian ataupun peternakan. Hal ini harus dilakukan agar para petani dan peternak Indonesia mampu meningkatkan ekspor dan mengurangi impor.
Pandangan negatif pada sector pertanian dan peternakan, rendahnya output bidang pertanian di wilayah Indonesia disebabkan adanya :
a.       Perubahan Iklim : Dengan perubahan iklim kemarau para petani sangat membutuhkan pasokan air untuk mengirigrasi daerahnya, maka oleh karena itu harus ditemukan sebuah inovasi untuk menangani masalah tersebut.
b.      Lahan pertanian
c.       Kualitas SDM rendah
d.      Rendahnya penggunaan teknologi
Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam menangani permasalahan bidang pertanian dan peternakan antara lain dengan melakukan penyediaan berbagai sarana pendukung sektor pertanian dan peternakan untuk membuka lahan baru sebagai tempat yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia.

2.2 Pencemaran
Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidupzat,energi, dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi:

·         Pencemaran Air
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danausungailautan dan air tanah akibat aktivitas manusia.Walaupun fenomena alam seperti gunung berapibadaigempa bumi dan lain-lain juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
·         Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansifisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.
·         Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

2.3 Contoh kasus sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan yang berkaitan dengan pencemaran

1. Contoh Kasus Pertanian :
Pupuk anorganik adalah pupuk yang dihasilkan dari sintetis unsur-unsur anorganik oleh pabrik. Pupuk anorganik sangat akrab di kalangan petani karena khasiatnya yang dapat langsung terlihat pada pertumbuhan dan produktivitas hasil tanaman. Di sisi lain, pupuk anorganik menjadi salah satu penyebab pencemaran lingkungan pertanian. Air dan tanah tercemari akibat kebiasaan petani yang menggunakan pupuk ini secara tidak efisien.
Pencemaran air terjadi misalnya pada penggunaan pupuk urea. In-efisiensi penggunaan pupuk urea sering kali menyebabkan pencucian (leaching) oleh air pertanian. Dalam kondisi berikutnya, limbah domestik unsur nitrogen dari urea yang tercuci menyebabkan nitrifikasi dan penyuburan lingkungan perairan. Dampaknya, pertumbuhan dan populasi eceng gondok dan gulma air lainnya menjadi membeludak seperti yang terjadi di Waduk Rawa Pening, Danau Kerinci, dan Bendungan Batu Tegi. Pertumbuhan gulma air dalam jumlah besar selain dapat mempersulit aksesibilitas transportasi air, dekomposisi biomassa gulma yang berjalan lebih banyak juga meningkatkan laju             pendangkalah perairan, Pencemaran tanah oleh pupuk anorganik salah satunya disebabkan pupuk phosphat. Pupuk ini mengakibatkan sementasi atau pengerasan tanah jika jumlah pupuk yang diberikan terlalu berlebih. Pada kondisi selanjutnya, organisme tanah akan semakin menurun populasinya akibat ketidakmampuan adaptasi pada kondisi tanah yang terlalu keras. Selain menyebabkan kerusakan biologis pada tanah, sementasi juga bermuara pada pengolahan      tanah   yang    harus    dilakukan        secara rutin.

Mengingat beberapa dampak yang ditimbulkan dari penggunaan pupuk anorganik, konsep pertanian ramah lingkungan melalui konversi pupuk anorganik ke jenis pupuk hayati dan pupuk organik sepatutnya segera diterapkan. Saat ini telah dikembangkan berbagai jenis bakteri, jamur, dan organisme tingkat rendah lainnya yang berkemampuan mencukupi kebutuhan hara tanaman seperti bakteri Rhizobium sp. yang mampu memfiksasi nitrogen dari udara dan jamur Mikoriza Veskular Arbuskulas (MVA) yang mampu menyediakan phosphat bagi tanaman melalui serangkaian proses biokimia. Ini merupakan suatu investasi menarik karena pupuk hayati mampu memberikan khasiat secara berkesinambungan pada kesuburan tanah. Pupuk hayati sangat ramah lingkungan dan justru dapat memperbaiki kondisi ekosistem tanah yang rusak karena pupuk anorganik. Pupuk organik juga tengah dipacu penggunaannya oleh pemerintah agar kebiasaan petani dalam menggunakan pupuk anorganik dapat menurun. Berbagai teknologi produksi pupuk organik juga telah disuluhkan oleh akademisi, praktisi, dan pemerintah agar program minimalisasi penggunaan pupuk anorganik dapat berjalan dengan baik. Kendati demikian kesadaran petani masih dirasa kurang. Informasi mengenai dampak negatif penggunaan pupuk anorganik bagi petani tidak diamalkan ke dalam bentuk peningkatan kebutuhan pupuk organik. Di sini diperlukan suatu terobosan yang sifatnya berbentuk penyuluhan psikologis agar petani secara sadar mau menggunakan pupuk organik.
2. Contoh Kasus Kehutanan :
Kebakaran hutan dan lahan terus meluas di Pulau Sumatera. Selain Provinsi Riau, titik api juga terdeteksi menyebar di 5 provinsi lainnya. Di Pekanbaru sendiri, asap dari kebakaran sudah menyelimuti sejak Jumat pagi dan menyebabkan jarak pandang hanya 3 kilometer. Berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), ada sekitar 35 titik api yang tersebar di Provinsi Aceh 4, Bangka Belitung 2, Jambi 5, Kepulauan Riau 3 dan Sumatera Barat 1. “Di Provinsi Riau sendiri terdeteksi 15 titik yang tersebar di 4 kabupaten/kota. Yaitu Bengkalis 3 titik, Pelalawan 3, Rokan Hulu 2 dan Kabupaten Siak 7 titik,” jelas staf Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo di Pekanbaru,Riau,Jumat(27/2/2015). Dari semua titik panas, sebut Agus, yang mengindikasikan titik api sebagai kebakaran hutan dan lahan ada 9. Semuanya tersebar di Bengkalis, Pelalawan, Rokan Hulu dan Siak. Pada umumnya, cuaca di Riau cerah berawan. Peluang hujan dengan intensitas ringan dan tidak merata diprakirakan terjadi pada malam hari di wilayah Riau bagian barat dan selatan. “Jarak pandang terpendek terjadi di Pekanbaru karena disebabkan kebakaran hutan dan lahan, yaitu sekitar 3 kilometer. Kemudian di Pelalawan 3 kilometer, Dumai 6 kilometer dan Rengat 5 kilometer,” ujar Agus. Sementara itu, BMKG Pekanbaru mengkhawatirkan dampak kebakaran yang terus meluas di Riau. Jika tidak segera diantisipasi, Riau diprediksi bakal ‘mengekspor’ asap ke negara tetangga.

3. Contoh Kasus Peternakan dan Perikanan :
Plastik telah menjadi masalah global. Sampah plastik yang dibuang, terapung dan terendap di lautan. 80% (delapan puluh persen) dari sampah di laut adalah plastik,  sebuah komponen yang telah dengan cepat terakumulasi sejak akhir Perang Dunia II.  Massa plastik di lautan diperkirakan yang menumpuk hingga seratus juta metrik ton. Plastik dan turunan lain dari limbah plastik yang terdapat di laut berbahaya untuk satwa liar dan perikanan. Organisme perairan dapat terancam akibat terbelit, sesak napas, maupun termakan.
            Jaring ikan yang terbuat dari bahan plastik, kadang dibiarkan atau hilang di laut. Jaring ini dikenal sebagai hantu jala  sangat membahayakan lumba-lumba, penyu, hiu, dugong, burung laut, kepiting, dan makhluk lainnya. Plastik yang membelit membatasi gerakan, menyebabkan luka dan infeksi, dan menghalangi hewan yang perlu untuk kembali ke permukaan untuk bernapas. Sampah yang mengandung kotoran minyak juga dibuang kelaut melalui sistem daerah aliran sungai (DAS). Sampah-sampah ini kemungkinan mengandung logam berat dengan konsentrasi yang tinggi. Tetapi umumnya mereka kaya akan bahan-bahan organik, sehingga akan memperkaya kandungan zat-zat makanan pada suatu daerah  yang tercemar yang membuat kondisi lingkungan menjadi lebih baik bagi pertumbuhan mikroorganisme.
Aktifitas pernafasan dari organisme ini membuat makin menipisnya kandungan oksigen khususnya pada daerah estuarin. Hal tersebut akan berpengaruh besar pada kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah tersebut. Pada keadaan yang paling ekstrim, jumlah spesies yang ada didaerah itu akan berkurang secara drastis dan dapat mengakibatkan bagian dasar dari estuarin kehabisan oksigen. Sehingga mikrofauna yang dapat hidup disitu hanya dari golongan cacing saja. Jenis-jenis sampah kebanyakan termasuk golongan yang mudah hancur dengan cepat, sehingga pencemaran yang disebabkannya tidak merupakan suatu masalah besar diperairan terbuka. Plastik telah menjadi masalah global. Sampah plastik yang dibuang, terapung dan terendap di lautan. 80% (delapan puluh persen) dari sampah di laut adalah plastik,  sebuah komponen yang telah dengan cepat terakumulasi sejak akhir Perang Dunia II.  Massa plastik di lautan diperkirakan yang menumpuk hingga seratus juta metrik ton.
Plastik dan turunan lain dari limbah plastik yang terdapat di laut berbahaya untuk satwa liar dan perikanan. Organisme perairan dapat terancam akibat terbelit, sesak napas, maupun termakan. Jaring ikan yang terbuat dari bahan plastik, kadang dibiarkan atau hilang di laut. Jaring ini dikenal sebagai hantu jala  sangat membahayakan lumba-lumba, penyu, hiu, dugong, burung laut, kepiting, dan makhluk lainnya. Plastik yang membelit membatasi gerakan, menyebabkan luka dan infeksi, dan menghalangi hewan yang perlu untuk kembali ke permukaan untuk bernapas.
Sampah yang mengandung kotoran minyak juga dibuang kelaut melalui sistem daerah aliran sungai (DAS). Sampah-sampah ini kemungkinan mengandung logam berat dengan konsentrasi yang tinggi. Tetapi umumnya mereka kaya akan bahan-bahan organik, sehingga akan memperkaya kandungan zat-zat makanan pada suatu daerah  yang tercemar yang membuat kondisi lingkungan menjadi lebih baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Aktifitas pernafasan dari organisme ini membuat makin menipisnya kandungan oksigen khususnya pada daerah estuarin. Hal tersebut akan berpengaruh besar pada kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah tersebut. Pada keadaan yang paling ekstrim, jumlah spesies yang ada didaerah itu akan berkurang secara drastis dan dapat mengakibatkan bagian dasar dari estuarin kehabisan oksigen. Sehingga mikrofauna yang dapat hidup disitu hanya dari golongan cacing saja. Jenis-jenis sampah kebanyakan termasuk golongan yang mudah hancur dengan cepat, sehingga pencemaran yang disebabkannya tidak merupakan suatu masalah besar diperairan terbuka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOMUNIKASI BISNIS

Tokoh Koperasi Dunia (Jerman)

KESIMPULAN ILMU BUDAYA DASAR